Make your own free website on Tripod.com

 

TEOLOGI MENSTRUASI

 

Oleh: Fery C. Syifa ì

PRA-KATA :

“Ya....Allah, Aku Rela bila kau ambil kembali Jiwa dan Ragaku, tapi jangan dengan  Tulisanku.....!!”. 

Terucap  TERIMA KASIH KEPADA DR. H. NASARUDDIN UMAR, MA (PUREK II IAIN  - UIN  JAKARTA ) YANG BERSEDIA MENGARAHKAN TULISAN INI.  SEMOGA TULISAN  INI BERMANFAAT BAGI PARA NETTER.  (fery syifa)

 

A.           Pendahuluan

 

                        Darah dan susu, dua jenis benda cair dalam tubuh wanita sangat berpengaruh dalam sejarah kekerabatan umat manusia. Yang pertama melahirkan konsep pertalian keluarga (kinship) dan yang kedua melahirkan konsep persaudaraan (brather). Kedua konsep ini melahirkan bentuk segregasi berdasarkan jenis kelainin (gender role). Bentuk segregasi ini cenderung memberikan peran terbatas kepada kaum wanita. Salah satu pertimbangannya ialah wanita sewaktu-waktu mengalami menstruasi, sedangkan menstruasi itu sendiri dianggap sebagai sesuatu yang tabu (menstrual taboo). 1  Dalarn masyarakat primitif, tugas kaum pria adalah memburuh (hunting), sedangkan kaum wanita. yang di sekitarnya penuh daerah terlarang  menjalankan  fungsi sebagai ibu. rumah tangga ( mother hood { mother = penjaga + hood = kemah ] )

Menstruasi atau haid tidak hanya sebagai masalah biologis yang secara rutin dialami kaum wanita, tetapi juga mempunyai makna teologis yang amat penting. Menstruasi ini menjadi cikal bakal dan  salah satu penyebab  langgengnya sistem : triarki dalam sejarah umat manusia. Lebih dan itu, banyak tradisi besar yang berkembang dan bertahan hingga saat ini sesungguhnya tidak lain adalah kreasi menstruasi (menstrual creation).

                        Menstruasi dalam lintasan sejarah, dianggap sebagai suatu simbol yang sarat dengan makna dan mitos. Darahnya sendiri dianggap tabu. Hampir setiap suku bangsa, agama, dan kepercayaan mempunyai konsep perlakuan khusus terhadap menstruasi

Dalam tradisi bangsa Indonesia, menstruasi sering diistilahkan dengan "datang bulan",  "sedang kotor", "kedatangan tamu", "bendera berkibar'1 dan lain sebagainya.

Istilah-istilah seperti ini juga dikenal di belahan bumi lain. Masyarakat majupun, seperti di Amerika Serikat, Canada, dan Eropa, masih menggunakan istilah yang berbau mistik, seperti: "a crescen moon" (bulan sabit), "golden blood" (darah emas), "earth" (tanah),  "sanake" (ular), dan lain sebagainya. Istilah-istilah tersebut masing-masing mempunyai pilosofi tersendiri yang berujung kepada suatu kesimpulan bahwa menstruasi bukanlah peristiwa  fisik ­biologis semata melainkan mempunyai makna teologis.

Istilah menstruasi tidak terlepas dan  makna teologis. Kata menstruasi (mens) berasal dan  bahasa Indo-Eropa, yakni dan  akar kata manas, mana, atau men, yang juga sering disingkat menjadi Ma artinya sesuatu yang berasal dari dunia gaib kemudian menjadi "makanan" suci (divine "food") yang telah diberkahi lalu mengalir ke dalam tubuh dan memberikan kekuatan bukan hanya pada jiwa tetapi juga fisik. Mana juga berhubungan dengan kata Mens (Latin) yang kemudian menjadi kata maind (pikiran) dan moon (bulan), keduanya mempunyai makna yang berkonotasi kekuatan spiritual. Dalam bahasa Greek, Men berarti Month (Bulan). 2

Persoalan sekarang apakah konsep menstruasi ini adalah benar-benar kutukan Tuhan (divine creation) atau hanya sebagai pantulan kelemahan taraf kognitif manusia (social construction). Kalau hal itu dianggap mitos, masalah lain akan muncul karena sudah mendapat pengakuan dan  Kitab Suci. mitos yang terakomodir dalam Kitab Suci "harus" diyakini dan berada di luar ontologi sains.

                   Persepsi orang terhadap menstrual taboo tidak hanya pada suku-suku bangsa tertentu, tetapi menurut penelitian Hays dalam bukunya yang terkenal "The Dangerous Sex, perlakuan menstruasi bersifat universal di berbagai tempat.

 

B.     Asal-usul Darah Menstruasi

 

          Darah menstruasi muncul bersamaan dengan terjadinya peristiwa dosa asal (original sin). Seperti diceritakan dalam Bibel bahwa akibat rayuan Hawa/Eva maka Adam lengah dan memakan buah terlarang itu, dan akibatnya keduanya menerima kutukan.

Dalam Bibel jelas ditegaskan bahwa:

"Manusia itu menjawab: "Perempuan yang kamu tempatkan di sisihku, dialah yang memberi dan  buah pohon itu kepadaku, maka kumakan".

Dalam  Kitab Talmud (Eruvin l00 b) disebutkan bahwa akibat pelanggaran Hawwa/Eva di Sorga maka kaum wanita secara keseluruhan akan menanggung 10 beban penderitaan:

1.   Wanita akan mengalami siklus menstruasi, yang sebelumnya Hawwa/Eva tidak pernah mengalaminya.

2.   Wanita yang pertama kali melakukan persetubuhan akan mengalami rasa sakit.

3.  Wanita akan mengalami penderitaan dalam mengasuh dan memelihara  anak-anaknya. Anak-anak membutuhkan perawatan, pakaian,  kebersihan,  dan pengasuhan sampai dewasa. Ibu merasa risih manakala pertumbuhan anak­-anaknya tidak seperti yang diharapkan.

4.    Wanita akan merasa malu terhadap tubuhnya sendiri.

5.    Wanita akan merasa tidak leluasa bergerak ketika kandungannya berumur    tua.

6.    Wanita akan merasa sakit pada waktu melahirkan.

7.    Wanita tidak boleh mengawini lebih dan  satu laki-laki.

                  8.    Wanita masih akan merasakan hubungan seks lebih lama sementara  suaminya sudah tidak kuat lagi.

9.   Wanita sangat berhasrat melakukan hubungan seks terhadap suaminya,   tetapi amat berat menyampaikan  hasrat  itu kepadanya.

l0.   Wanita lebih suka tinggal di rumah.

 

Mungkin banyak kaum wanita dewasa ini tidak sadar kalau poin pertama sampai terakhir bukan sekedar peristiwa alami, tetapi oleh orang-orang yang mempercayai kitab itu diyakni sebagai bagian dan"kutukan" Tuhan terhadap kesalahan Hawa/Eva

Orang-orang yang sedang menjalani masa haid mendapat perlakuan khusus,  termasuk dikucilkan dari  masyarakat bahkan dari lingkungan keluarganya sendiri. Oleh karena wanita haid penuh daerah terlarang dan sebagian hidupnya harus dihabiskan di daerah pengasingan, maka kaum wanita dengan sendirinya tidak bisa mendapatkan peran sosial. Kaum pria juga mendapatkan kutukan tetapi tidak seberat dengan yang dialami kaum wanita. Kutukan tersebut adalah  sebagai berikut:

 

1.  Sebelum terjadi kasus pelanggaran (spiritual decline) postur tubuh laki-laki lebih tinggi dari  pada bentuk normal sesudahnya.

2.   Laki-laki akan merasa lemah ketika ejakulasi.

3.   Bumi akan ditumbuhi banyak pohon berduri.

4.   Laki-laki akan merasa susah dalam memperoleh mata pencaharian.

5.  Laki-laki pernah makan rumput di lapangan rumput bersama binatang ternak, tetapi Adam memohon kepada Tuhan agar kutukan yang satu ini dihilangkan.

6.   Laki-laki akan makan makanan dengan mengeluarkan keringat di alisnya.

7.   Adam kehilangan ketampanan menakjubkan yang telah diberikan oleh Tuhan  kepadanya.

8.   Ditinggalkan oleh ular yang sebelumnya telah menjadi pembantu setia lak-laki.

9.   Adam dibuang dari  taman syorga dan kehilangan status sebagai penguasa jagat raya.

l0.   Laki-laki diciptakan dari  debu dan akan kembali menjadi debu. Ia ditakdirkan untuk mati dan dikubur.

Kutukan yang ditimpakan kepada kaum laki-laki, selain lebih lunak kutukan itu langsung atau tidak langsung  juga menimpa kaum wanita. Sebaliknya, kutukan terhadap wanita lebih berat dan monumental serta hanya dialaminya sendiri, tidak dialami kaum laki-laki.

Dalam Bibel juga disebutkan dalam Kitab Kejadian (3:16): "FirmanNya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu;  ... dan suamimu  akan berkuasa atasmu"6.

Al-quran mempunyai pandangan optimistis terhadap kedudukan dan keberadaan wanita dalam hal ini. Semua ayat yang membicarakan tentang Adam dan pasangannya ( Zauj/pair ), sampai keluar bumi, selalu menekankan kedua belah pihak dengan menggunakan kata ganti untuk dua orang ( dlamir mutsanna ), seperti kata huma misalnya : kedua memanfaatkan fasilitas sorga ( Q.S.Al Baqarah/2:35 ), mendapat godaan yang sama dari syaitan ( Q.S.Al-Araf/7:20 ),sama-sama memakan buah khuldi dan keduanya menerima akibat terbuang ke bumi (7:22),  sama-sama memohon ampun dan sama-sama diampuni Tuhan (7:23). Setelah di bumi, antara satu dengan lainnya saling melengkapi, mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka (Q.S.Al­Baqarah/2: 187).

 

 

Darah dan Wanita

 

          Darah dan wanita, dua hal yang tak terpisahkan. Selain darah kutukan (menstrual taboo)  sebagaimana disebutkan tadi, darah (blood) juga mempunyai makna  teologi lain, yaitu  dianggap sebagai simbol "kekuatan hidup" (the force of life). Dalam banyak upacaya ritual dan sakramen, darah seringkali menjadi unsur peting di dalamnya.

          Darah adalah unsur penting dalam penciptaan dan  kehidupan manusia.  Tidak heran kalau di kemudian hari  muncul teologi darah yang membahas tentang:  Dari  mana asal usul darah? Kapan darah itu muncul dan mengalir kedalam tubuh?  Bagaimana masuknya ke dalam tubuh? Bagaimana pula asal usul darah haid? Perhatikan dalam sebuah acara kebaktian Kristen di gereja. Anggur merah disimpan dalam satu tempat khusus sebagai simbol darah Sang Perawan Ibunda Maria7

 

Bulan dan Wanita

 

Bulan dan wanita dalam berbagai mitologi sangat dekat. Dalam mitologi Mesir Kuno bulan dilukiskan sebagai "Ibu Alam Semesta"  (The Mother of Universe")  karena mempunyai cahaya yang membawa kesuburan dan sangat penting dalam kelangsungan hidup mahluk hidup.8

Maria (Maryam), Ibu Jesus (Nabi Isa) sering dilukis dengan bulan sabit di kakinya sebagai simbol kesetiaan antara wanita dan bulan. Dewa Isis dipercaya selalu turun mandi pada saat bulan sabit. Dalam sejarah Mesir Kuno ada yang menganut faham Dewi Tiga Serangkai (Triple Goddess), yaitu Si Bungsu atau Si Gadis Perawan (Maiden), menjadi Ratu pada bulan sabit, Si Pengantin Baru (Bride) menjadi simbol untuk bulan purnama dan juga sebagai simbol kesuburan, penuh kreatifitas dan menjadi Ratu saat bulan purnama. Bulan purnama berangsur-angsur akan memudar dan pada saat itu muncul bulan tua (Crone) menjadi Ratu di antara Bulan Purnama dan Bulan Sabit. Yang terakhir ini menjadi simbol Dewa kematian dan kegelapan.9

Dalam kepercayaan Hellinistik, alam makrokosmos mempunyai hubungan kausalitas dengan alam mikrokosmos. Prilaku benda-benda alam (planet)  di alam makrokosmos memberikan pengaruh teradap lingkungan alam dan lingkungan sosial di alam makrokosmos yang dihuni umat manusia. Demikian pula sebaliknya, prilaku di alam makrokosmos juga dipengaruhi oleh prilaku alam makrokosmos.

Sebagai contoh, prilaku bulan menjadi pertanda pada biosfer yang ada di bumi, seperti kejadian pasang surut air laut dapat difahami melalui siklus peredaran bulan purnama. Peredaran bulan sabit dihubungkan juga dengan siklus menstruasi wanita. Menjelang muncul bulan sabit,  terlebih dahulu diawali  dengan kegelapan dan ketidakpastian.Fenomena ini diartikulasikan kepada kaum wanita bahwa menjelang menstruasi, ia mengalami suasana fisik dan psikis yang lebih sensitif, mudah tersinggung (fragile ligh dan merasa tidak menentu (unfocused).10

Di Inggris dan di Perancis, masih banyak kelompok masyarakat mempercayai adanya hubungan causalitas antara prilaku bulan dalam alam makrokosmos dan prilaku lingkungan hayati di bumi.Pendudukdibeberapa kepulauan di Inggris menunggu bulan purnama untuk memetik buah-buahan.11 Di Perancis dan Kanada sampai sekarang masih banyak   warganya setiap bulan  membuat atau menghadirkan kue.iroti "bulan sabit"  (croissants)12  Di Perancis dan daerah Quebec, Kanada kue seperti itu masih dapat ditemukan di berbagai restauran. Beberapa negara di Asia, seperti India, Cina, dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, siklus peredaran bulan masih digunakan sebagai pedoman dalam bercocok tanam.

Tidak terkecuali masih banyak kaum wanita menjadikan sikius peredaran bulan  dalam menentukan kalender masa haidnya

Bangsa Arab sebelum datangnya Islam, masih banyak kepercayaan yang menganggap bulan sebagai dewa yang sangat berpengaruh, dan menurut Owen, dan  sinilah sebabnya mengapa bendera Islam semenjak dahulu kala sampai sekarang menjadi lambang "Palang Merah" Islam selalu dilambangkan dengan bulan sabit.13

Bendera (flags) juga sering menjadi simbol menstruasi, seperti kaum wanita di Timur-Tengah dan di Indonesia, seringkali menganalogikan diri  dengan bendera yang sedang berkibar manakala sedang mengalami menstruasi.

 

 

Beberapa Contoh Menstrual Creation

 

1. Kosmetik

Menstruasi dalam lintasan sejarah, sangat mempengaruhi prilaku dan etos kerja wanita. Mulai prilaku seksual, masak-memasak,  sampai kepada prilaku sehari-hari seperti merias diri, memilih warna pakaian, berjalan, tidur, makan, memilih posisi tempat duduk, dan lain sebagainya. Semuanya harus mengikuti aturan, bukan saja agar darah itu tidak tercemar tetapi juga agar tidak terjadi pelanggaran terhadap yang tabu itu.

Hampir semua agama, kepercayaan, dan adat istiadat di berbagai belahan bumi tidak mentolerir hubungan seksual pada saat menstruasi.  Kalangan Yahudi dan Kristen mempercayai beberapa jenis makanan tidak boleh disentuh, terutama makanan atau minuman yang mengandung alkohol pada saat menstruasi, karena makanan itu akan tercemari.

Kata kosmetic itu sendiri berasal dan  bahasa Greek, cowetikos yang arti dan konotasinya erat dengan kata cosmos yaitu prihal keteraturan bumi.  Kata itu juga berhubungan dengan kata cosmology, yang menunjuk kepada kajian astronoini tentang keserasian antara ruang dan waktu (space-time relationship) yang juga menjadi sasaran kajian metafisik. Istilah lain yang erat hubungannya dengan kata itu ialah kata cosmogony yang berarti diskripsi tentang asal-usul alam semesta (discription of the origin of the universe). Juga dengan kata cosmography berarti diskripsi tentang keserasian lingkungan alam. Istilah "kosmetik" yang sekarang menjadi alat kecantikan wanita lebih dekat kepada  kata cosmetikos tadi, yang berarti sesuatu yang harus diletakkan pada anggota badan wanita guna menjaga terpeliharanya keutuhan lingkungan alam.14

Kepercayaan terhadap menstrual taboo menuntut kaum wanita untuk menggunakan berbagai tanda dan isyarat kepada anggota badan tertentu agar segenap anggota masyarakat terhindar dan  pelanggaran terhadap menstrual taboo. Pada mulanya tidak sembarang orang dapat menggunakan kosmetik, hanya wanita yang sedang menstruasi. Anak-anak yang belum mengalami menstruasi,  orang tua yang sudah menapouse, apa lagi kaum laki-laki, tidak lagi harus menggunakan kosmetik. Perkembangan berikutnya memberikan makna tersendiri terhadap penggunaan kosmetik, seperti sekarang, seolah-olah tidak sah menjadi wanita tanpa kosmetik.15

Cara orang mengenakan kosmetik mempunyai corak dan tata cara tersendiri   di setiap daerah.  Penduduk asli Australia mengoleskan darah haid atau zat-zat yang berwarna merah ke bibir dan pipinya seraya melakukan berbagai upacara ritual. Hal yang sama juga dilakukan oleh beberapa suku di Brazil dan Afrika. Wanita suku Cheyenne Indian yang mengalami menstruasi pertama dioleskan cat warna merah ke sekujur tubuhnya kemudian diasingkan selama tujuh hari  di gubuk kecil yang tertutup rapat, yang lebih dikenal dengan menstrual but. Di Cina dan India, wanita yang sedang menstruasi memberikan cat merah di antara dua keningnya. Wanita yang mengalami menstruasi pertama di Nigeria menggunakan cosmetik kemerah-kerahan di mukanya sebagai pertanda bahwa dirinya sudah dewasa. Di Scotlandia dan Canada, wanita menstruasi membubuhi tatto sekujur anggota badannya dan  kepala sampai  kaki sebagai pertanda bahwa dirinya sedang menstruasi. Di Amerika bagian Selatan dan beberapa suku di Afrika, wanita semacam itu mengenakan pita atau dasi kupu-kupu warna kemerah-merahan dirambutnya. Di Asia Tenggara, Daerah Pasific Selatan, dan Amerik bagian Selatan, wanita menstruasi   memakai gigi logam yang berwarna kemerah-merahan. Di India, Asia bagian Tengah pada umumnya,  Eropa pada umumnya,  dan Afrika bagian Utara, mencelup rambutnya dengan zat warna-warni, memberi warna jari-jari  tangan dan jari-jari kakinya dengan daun pacar 16.  

Model perhiasan menstruasi berikutnya semakin berfariasi,  tetapi masih tetap berfungsi sebagai isyarat tanda bahaya (signals of warning) agar tidak terjadi pelanggaran terhadap menstrual taboo tadi.

Pada kelompok masyarakat yang sudah mulai mengenal teknologi sederhana, bahan-bahan kosmetik itu sudah mulai di perjual belikan. Seperti zat pewarna merah (lipstik) yang unsurnya terbuat dan  kulit kayu, ada juga membuat semacam stikker berwarna merah yang dapat ditempelkan pada anggota badan tertentu.

Masyarakat Jiperu, Peru, kaum wanita memberikan lobang di bagian bibir guna memudahkan pemasangan "kosmetik". Wanita Afrika memberikan cat merah dan  kulit kayu tertentu yang berbentuk segi empat melingkar di bibirnya. Beberapa suku di berbagai belahan bumi, seperti di Afrika, membuat alat penutup dan  bahan tertentu terhadap organ tubub yang berlobang,  seperti mulut, hidung, telinga, dan vagina. Perhiasan yang dipasang dengan cara memberi lobang di bagian telinga,  kemudian memasang benda-benda keramat tertentu, semuanya itu dimaksudkan untuk mencegah masuknya "roh jahat" (evil spirits) ke dalam tubuh, yang dapat membawa penyakit, khususnya pada masa menstruasi.

                Penggunaan cincin dan permata digunakan belakangan,tetapi masih tetap dianggap sebagai kreasi menstruasi (menstrual creation). Masyarakat India mengenakan permata di bagian hidung untuk "mengamankan" diri  dan  marabahaya

melalui lobang hidung. Penggunaan kosmetik dan  barang-­barang yang bertuah diyakini dapat mencegah pemakainya dan berbagai musibah dan kejahatan.17

Sesudah menstruasi, kaum wanita melakukan upacara ritual  menurut berbagai agama dan kepercayaan. Agama Hindu memberikan tuntunan kepada kaum wanita agar tiga hari pertama menstruasi adalah hari  yang sangat taboo dan harus betul-betul waspada; sesudah itu dapat dianggap bersih dan bergaul  kembali  dengan  keluargnya.18   Agama Islam menetapkannya seminggu masa haid dan sesudahnya kaum wanita sudah dianggap bersih jika sudah mandi. Darah yang keluar sesudah hari  kesepuluh dianggap darah penyakit biasa ( istihadlah ).

Setelah melampaui masa menstruasi kaum wanita dituntut untuk membersihkan dirinya dengan tatacara tertentu. Harus mandi dan merapikan rambut dengan menggunakan sisir  yang juga berasal dan  benda-benda tertentu, seperti dan kerangka tulang ikan tertentu dan tulang belulang atau tanduk rusa. Sisir  (cumb) dan wanita adalah bagian yang tak terpisahkan.  Kata (cumb)  itu sendiri berasal dan bahasa Latin dan Greek yang selain berarti sisir juga berari vulva,  alat kelamin wanita,  karena menurut sejarahnya sisir juga termasuk menstrual creations

Di Pedalaman Eropa, Asia Tengah, dan Afrika Utara, sampai sekarang masih mempercayai tatapan mata perempuan yang sedang menstruasi (menstruant's gaze) mempunyai kemampuan untuk menimbulkan berbagai bencana. Tatapan mata, yang biasa disebut mata "iblis" (the evil eye),  dapat menyebabkan masakan menjadi busuk (basi), menggagalkan panen, bayi-bayi menjadi sakit, dan lain sebagainya.19 Di Maroco masih populer apa yang disebut dengan tseuheur20, semacam santet di Jawa,  suatu upaya supernatural guna membinasakan seseorang.  Salah satu unsur penting dan tseuheur ini diambil dan  darah mens.

Mengingat tatapan mata menstruasi sangat berpotensi membawa malapetaka, maka wanita yang sedang menstruasi tidak cukup hanya mengenakan "kosmetik" tetapi ia harus mengasingkan diri  dan  suatu gubuk pengasingan (menstrual hut), seperti yang dilakukan penduduk asli Amerika dan beberapa daerah di Timur-Tengah pada zaman dahulu. Bahkan ada  kelompok  masyarakat  yang  mengasingkan  dan menyembunyikan wanita mens ke dalam goa, terpisah jauh dan keluarga dan masyarakat umum, seperti penduduk pegunungan Caucasus, di pegunungan sekitar Rusia.

Cara lain untuk mengatasi "si mata Iblis" ialah dengan memberikan makeup dan bayangan-bayangan mata (eye shadws') di sekitar mata. Di Asia bagian tengah dan Afrika Utara sudah sejak lama mengenal zat-zat khusus lebih praktis yang dapat digunakan manakala wanita sedang menstruasi. Di Cina dan Mesir juga sudah sejak dahulu kala mengenal celak mata, berupa cat warna ke sekitar mata.

Dalam masyarakat Indonesia pada umumnya, celak mata sudah populer sejak dahulu. Wilayah Indonesia yang berada di cekung Pasifik, sudah dikenal sebagai daerah transit sejak abad ke empat masehi. Para saudagar Arab yang ke Cina, demikian pula sebaliknya, pedagang Cina ke Arab, menjadikan Indonesia sebagai tempat persinggahan untuk mengambil air minum. Boleh jadi semenjak itu alat-alat kosmetik sakral diperkenalkan di wilayah Indonesia, karena salah satu komoditas perdagangan antara Cina dan Arab ketika itu adalah industri rumah tangga, seperti parfum dan alat-alat cosmetik.

 

2.      Slop, Sandal, dan Sepatu

 

Salah satu menstrual creations yang patut disinggung di sini ialah sandal, slop, sandal dan sepatu. Dahulu kala orang-orang tidak mengenal sandal dan sepatu. Mereka pergi ke mana-mana tanpa menggunakan alas kaki. Akan tetapi setelah  kepercayaan terhadap menstrual taboo berkembang, maka masyarakat berusaha menolak bala dengan memperhatikan faktor-faktor yang dianggap tabu. Bila terjadi bencana dan malapetaka di dalam keluarga, masyarakat, atau lingkungan alam,  maka hal itu diyakini sebagai akibat adanya pelanggaran terhadap yang tabu.

Beberapa kelompok masyarakat mencegah sama sekali wanita haid menginjakkan kaki di tanah, karenanya harus memakai alas kaki kalau mau berjalan di atas tanah. Belakangan muncullah istilah sandal,  slop,  dan sepatu dengan berbagai macam model dan bahan yang bermacam-macam. Di Mesir, selain menggunakan sandal, slop atau sepatu, wanita haid juga harus mengguanakan gelang di kaki yang berasal dan  benda-benda tertentu yang dianggap bertuah untuk mencegah polusi (menstrual poll utions. Tradisi gelang kaki, sandal, dan sepatu bagi wanita haid juga dikenal di Cina, Zaire, dan pedalaman Eropa.21