Make your own free website on Tripod.com

PERJALANAN 

( SUATU PENCERAHAN )

Kilau mentari pagi, teriring nyanyian burung-burung pedesaan Telah mengantarkan aku dalam pernik kehidupan ini. Damainya suasana desa telah banyak memebentuk karakteristik hidupku. Semua terkenang manis dalam benakku - begitu indah pesona alam, sambutan senyum ramah tetangga dan orang-orang di sana, bibir gadis slalu tersimpul manis, jabat tangan kawan-kawanku ...... terpatri dalam sanubari. Oh.....begitu damai ada diantara kasih sayang orang tua dan keluarga. Kesederhanaan yang tampil di halaman rumah - bunga rampai, melati dan rose melerai jalan menuju pintu depan. ....... menjadikan aku semakin rindu ......pada semua.... Yang juga telah menanamkan nilai dan falsafah hidup bagi-ku.

Aku adalah bagian anak desa, desa yang semetinya tak menjadi desa....namun menjadi istana dan peristirahatanku di hari tua bahkan mungkin sampai hembus napasku....suatu keinginan yang slama ini ku pendam. Entah mengapa dan sampai kapan ?? ;   Fery Cahyadien Syifa....  aku dapat menuliskan hurup demi hurupnya, menggores pena dengan jemari .... hanya Tuhan yang Maha Tahu.

Sebelum hayatku sirna  dan jasadku terkubur dalam tanah-Nya, perkenankan aku menuangkan ini untuk semua dan untuk sgala kebaikan yang ku dapat dari  tiap manusia ,  termasuk engkau dan kalian semua  atau paling  tidak untuk anak-anak dan cucu-cucuku suatu hari nanti . Namun perkenankan terlebih dahulu :

Nama saya teh :  Fery Cahyadien Syifa , 13 Agustus 1978  terlahirlah aku dengan sambut tangis dan senyum bahagia ( kata ema ama abah - begitupun kata bidan desa yang mengurusnya....kata ....orang ). fery yang kecil tumbuh dan berkembang  dibawah selimut doa - doa ibu dan bapak penuh keikhlasan - berjalan dibelantara  bukit damai yang menghijau - berlari di lini-lini warna bunga menuju dermaga harapan, menitik telik kebahagian yang entah dimana .... tetap akan ku men-cari tanpa men-curi.

Perjalanan pendidikanku di mulai dari kelurga, bapak ( Yusuf Effendy )  yang memiliki ketegasan dan ibu dengan penuh kasih sayangnya selalu melindungi aku dengan dekapnya penuh penenangan. Menginjak usia sekolah ku masuk pada sebuah Sekolah Dasar ( SDN Sindang Kerta ) - namun sebelumnya aku menjalani pendidikan formil di Madrasah Diniyah ( yang masih dikelola oleh keluarga kakekku - H. Mamad Salim  sebagai amanat dari uyutku H. Salim  ). Di dua lembaga formal tersebut - aku belajar didiplin ilmu yang sesuai dengan perkembanganku. tata nilai dan normatif keagamaan selalu ku dapat yang mengharuskan aku untuk menjalankannya tanpa paksaan. Dua lemabaga awal inilah yang telah mengadopsiku pada buaian yang mesti ditinjak lanjuti secara serius - tanpa kecuali karena ia suatu keharusan.

Menginjak awal remaja yang masih berbau kekanak-kanakan aku pergi meninggalkan desaku tercinta menuju Cisaat ( terkenal dengan kota santri - dibawah kaki Gunung Gede - sebelah selatan ), di sana aku masuk SLTP - tepatnya di Yasti ( Yayasan Tarbiyah Islamiah ), disamping itupun aku masuk di Pondok Pesantren ( Qubbatul Muttaqien ) selama tiga tahun aku di Cisaat mengarungi pelbagai dan tantangan rintangan, jauh ( jarak )  dekapan  bapak  dan tanpa belaian jemari Ibu di kepalaku - karena memang keadaan yang mengkondisikannya, tapi aku yakin mereka tetap mengomatkan bibirnya dengan doa-doa untukku.bertemankan sahabat yang sama mengalaminya aku tetap berusaha untuktetap tegar - walau ada tangis kerinduan ingin belai langsung orang tuaku. Cisaat telah banyak menorehkan pengalaman spritualitas untuk jiwaku yang tetap haus, begitu tak ternilai harganya.

Dengan tekad yang ........ entah ach ....! kulangkahkan kakiku menuju Cipanas ( Cianjur ) untuk menenangkan hausku terhadap pengalaman, maka aku pun menjalaninya bersama teman-temanku. Ijasah SLTP mengantar ku ke SLTA ( MAN Pacet - SMUN Islam ). Lagi-lagi aku masuk Pondok Pesantren ( Raudlatul Falah ), yang menghadirkan aroma dingin - udaranya, airnya, tapi tidak dengan penduduknya ( ada kehangatan diantara mereka), yang mampu menghangatkan jiwaku. Air pegunungan telah menghadirkan ketenangan  begitupun  udaranya menyadarkan akan pentingnya kedamaian, Sedikit berbagi pengalaman - bilakah uang saku kiriman orang tua ku menipis - aku mencoba berusaha dengan menjual bunga-bunga di Cimacan (Puncak) bersama teman-temanku asli sana. Memang kemauan itu harus terujudkan dengan kerja keras. Pagi ku Sekolah, lebih dari itu kuhabiskan waktuku di Pondok dengan mengkaji kitab-kitab kuning (klasik).   Disekolah yang menarik perhatianku adalah disiplin ilmu-ilmu eksakta - pilihanku jatuh pada jurusan IPA. Pesantren dan Sekolah telah menopang perjalanku.

Sungguh suatu kehormatan bagi diriku - lembaga-lembaga pendidikan itu, rasanya aku ingin memberi sesuatu yang berharga bgi tiap lembaga yang telah memeberiku suatu yang istimewa.

bersambung

perjalanan II