Make your own free website on Tripod.com

Filsafat Islam

Diajukan sebagai Tugas Individu pada Mata Kuliah

Filsafat Islam

 

 

 

Oleh ;

Fery Cahyadin

Ferysyifa@netscape.net

 

NIM : 1971113102

 

 

 

 

 

 

 

Fakultas Tarbiyah

IAIN Syarief Hidayatullah Jakarta

 

 

 

 

 

 

1.Masuknya filsafat di dunia Islam merupakan hal yang tak terelakkan bagi komunitas Muslim. Masuknya filsafat dalam Islam itu dipengaruhi pula oleh dinamika intellectual kaum muslim.  Jelaskan dan fasenya !

 

Kajian filsafat dalam Islam tentu tidak terlepas pula dari pengaruh intern dan pengaruh ekstern. Adopsi ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa keemasan islam telah mendorong beberapa pihak untuk berupaya mentraslasi pelbagai ilmu pengetahuan diluar penguasa Islam yang pada gilirannya dapat dikuasai oleh umat Islam (dibawah naungan kekuasaan Islam). Dan Umat Islam yang memiliki potensi untuk itu telah mengejawantahkannya dengan pelbagai upaya positif dan konstuktif dalam penerjemahan buku-buku aristoteles, plato dan lain-lain. Hal ini pun didukung oleh para penguasa yang content terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Perhatian yang istimewa ini telah membawa wajah Islam yang universal dalam mengkaji segala masalah yang berkembang di masanya. Dengan mengkonklusikan dengan dalil naqli yang menuntut manusia untuk mencurahkan potensi pikirnya (akal  - lihat surat al-Hasyr ; 32). Ketika dalil-dalil agama telah memberi sinar kebijakan tersebut, Islam memberi jalan manusia mencari kebenaran dengan jalan berfikir (berfilsafat). Dikalangan kaum muslimin., orang yang pertama-tama memberikan perhatian filsafat dan lapangannya adalah al-Kindi.

 

Tujuan filsafat dalam Islam ialah bagaimana kita membuktikan adanya Tuhan, dengan memperhatikan tanda-tanda yang ada di alam ini, sehingga nantinya akan didapat iman yang sejati, keyakinan yang akurat. Karena dalam filsafat Islam bukan hanya meliputi logika, fisika, dan metafisika melainkan meliputi pula problem-problem besar filsafat seperti soal wujud, esa, teori mengenal dan hubungan Tuhan dengan manusia.

 

Pada fase pertama. Segi pemikiran ketuhana  pada kaum muslimin masih bercorak “Islam murni” yang msih berada dalam lingkungan kepercayaan Islam dan dasar-dasarnya, seperti persoalan pengertian iman (bertambah – berkurangnya), hukum perbuatan dosa besar, qadha dan ikhtiar dan sebagainya.

Pada fase kedua, segi aqidah perkembangan pada kaum muslimin telah megalami perkembangan, yaitu sejak bergaul dengan golongan diluar Islam sampai pada masa-masa selanjutnya. Pada fase ini dapat dibagi kedalam bebrapa masa yang mempunyai corak  masing-masing, yaitu ;

v           Masa penerjemahan dan pengulasanan buku-buku filsafat atau masa pemaduan anatara pemikiran-pemikiran Yunani dengan ketentuan-ketentuan agama. Seperti yang dialkukan oleh tokoh A-Kindi, Al-Farabi, Ikhwanussafa, dan Ibnu Sina

v           Masa kritikan terhadap filsafat Yunani, sepeti yang dilkuakan oleh Al-Ghazali

v           Masa Pembelaan terhadap filsafat Yunani dinegeri-negeri Islam bagian barat (Spanyol dan sekitarnya), dan pada waktu yang sama filsafat  tidak dipakai untuk memperkuat kepercayaan, disamping upaya mengintegrasikan dengan agama dengan cara lain. Tohohnya Ibn Rusyd

v           Masa melangsungkan kritik terhadap filsafat Yunani beserta ulasan-ulasannya dari golongan rasionalis (failsafat-filsafat Islam) dibwah pengaruh buku Tahafutul al-Falsifah dismping mempersempit daerah-daerah akal dalam memahami soal akidah, diseponsori oleh tokoh Al-Iji, At-Thusi, dan Sa’aduddin At-Taftazani

v           Masa kritikan terhadap pemakaian metode pikiran dalam memahami soal-soal akidah, yang berarti mengkritik cara aliran-aliran  filsafat dan teologi Islam dalam memperkuat kepercayaan. Tokoh masa ini ialah Ibnu Taimiah & Ibn Al-Qayyim

v           Masa kritikan terhadap pemakaian metode pikiran dengan mengikuti madzhab-madzhab  akidah tertentu dalam memahami kepercayaan agama.

 

Dengan demikian wacana pemikiran Islam terus berkembang, dan tahap demi tahap filsafat mendapat tempat tertentu dikalangan Muslimin. Dengan banyak penelitian terhadap filsafat ini telah membuka cakrawala pemikir-pemikir Muslim dan banyak meklahirkan ide-ide kreatif yang kontruktif dalam mengkaji dan menguji pelbagai teori dalam filsafat itu sendiri.

 

2.  dalam filsafat kita mengenal al-Muallim al-Awwal dan al-Muallim al-Tsani. Siapakah yang mendapat gelar tersebut ?   Mengapa ?

yang menyandang predikat tersebut ialah

q             Aristoteles  sebagai al-Muallim al-Awwal

q             Al-Kindi  sebagai al-Muallim al-Tsani

 

Mereka berdua memperoleh hal tersebut mengingat jasa-jasanya dalam filsafat, karena mereka berdualah dapat diketahui filsafat secara sistematis, logis, memeberi batasan – ruang   lingkup yang dikaji dalam filsafat, serta memberi arah pada cabang-cabang filsafat, tujuan, fungsi serta manfaat berfilsafat. Dengan pemikiran-pemikiran kedua tokoh ini telah banyak memotivasi manusia untuk selalu berfikir dan merenung demi memperoleh kabajikan dari Dzat Yang Maha Ttinggi.

Dua tokoh ini jelas telah meletakkan dasar-dasarnya sehingga banyak dari pemikiran-pemikirannya, kemudian hari terus dikembangkan dengan pengujian dan penjelasan yang menuntut untuk selalu dikaji dan diuji oleh para tokoh  filasafat lainnya.

Pantaslah mereka mendapat gelar predikat / prestise al-muallim al-awwal & al-muallim al-tsani seimbang dengan prestasi yang mereka ukir dalam kancah pemikiran dalam filsafat khususnya.

 

 

  1. Jelaskan persoalan yang direspons keras oleh Al-Ghazali ! Bagaimana pendapatmu ?

 

Respon yang keras yang dilkukan oleh al-Ghazali terhadap para filosof dikemukakaknnya dalam suatu kitab “ Tahafut al-falasifah”, yang di dalamnya memuat kritik atas pelbagai konsep pemikiran yang dikemukakan oleh para filosof. Dalam bukunya itu al-Ghazali menyalahkan filosof dalam bebebrapa pendapat, sebagai berikut :

1.            Tuhan tidak memiliki sifat

2.            Tuhan memilki  substasnsi basit (sederhana, simple) dan tiak mempunya mahiah (hakekat, quiddity)

3.            Tuhan tidak mengetahui juz’iat (perincian, particulars)

4.            Tuhan tidak dapat diberi sifat al-jins (jenis,genus) dan al-fasl ( differentia)

5.            Palanet dalah bintang-bintang yang bergerak dengan kemauana

6.            Jiwa planet-planent mengetahui semua juz’iat

7.            Hukum alam tak dapat berubah

8.            Pembangkitan jasmani tidak ada

9.            Alam ini tidak bermula

10.        Alam ini akan kekal

 

Sebagian dari kesepuluh soal (metafisik) pendapat diatas, menurut al-Ghazali membawa manusia kepada kekufuran yaitu :

Alam dalam kekal – tidak bermula

disini al-Ghazali berpendapat bahwa alam (dunia) berasala dari tidak ada menjadi ada sebab diciptakan oleh Tuhan. Maka jelaslah menurutteologi bahwa alam ini tidak kekal dan tentu bermula karena alam eksistensi alam itu dari tiada menjadi ada ( creatio ex – nihilo). Dan jika alam itu tidak bermula maka alam bukanlah diciptakan, dan dengan demikian Tuhan bukalah penciptanya . dan dalam al_Quran dikatakan bahwa pencipta segala sesuatu adalah Tuhan.

Begitu pula beliau menyerang tentang pastinya keabadian alam, seperti yang dikemukakakn oleh apra filosof. Menurutnya keabadian alam itu terserah kepada Tuhan semata (otoritas Tuhan). Mungkin saja alam itu terus menerus tanpa akhir andaikata Tuhan mengehendakinya, akan tetapi bukanlah suatu kepastian harus adanya keabadian alam disebabkan oleh dirinya sendiri diluar iradat Tuhan.

Al-Ghazali  menyerang pula pendapat (filosof) yang mengatakan bahwa Tuhan hanya mengetahui soal-soal yang besar saja dan tidak mengetahui persoalan yang kecil (juz’I, terperinci). Bila demikian adanya tentu al-ilm Tuhan terbatas, dan itu mustahil bagi Tuhan.

Begitu pun ia menyerang pendapat (filosof) yang menyatakan bahwa segala sesuatu terjadi dengan kepastian hukum sebab-akibat semata, dan mustahil ada penyelewangan dari hukum tesebut. Bagi al-Ghazali segala peristiwa yang serupa dengan hukum sebab-kibat (kausalitas) kebiasaan (adat) semata, dan bukan hukum kepastian.

 

Semua argument yang dikemukakan oleh al-Ghazali dalam Tahafutul Falasifah itu dilancarkannya dengan cara polemik yang logis, dan teratur baik. Dan tentu dengan alasan –alasan yang mendukungnya.

 

Dan menurut pendapat penulis sendiri, entah itu para filosof ataupun al-Ghazali menginginkan penemuan kebenaran. Walau dengan metode yang berbeda. Oleh karena metodenya berbeda tentu cara pandangnya pun berbeda. Yang jelas polemik antara argument filosof dan argument al-Ghazali perlu pemahaman yang lebih lanjut. Saya melihat bahwa dua pihak ini hanya mencari kebenaran menurut pendapat mereka masing-masing dengan menggunakan pelbagai alat (tools) yang tersedia. Jadi tidaklah bijak terlalu mengekpos perbedaan antara keduanya. Yang menjadi tuntutan bagi kita ialah bagaimana mencari titik temu dari kedua pendekatan ini, artinya yang perlu kita ambil adalah semangat ruh berpikir dari berbagai argument di atas yang mengisayarkan kita harus selalu menggunakan segala potensi yang kita punya untuk mencari kebanaran sehingga akan lebih mendekatkan kita kepada Tuhan. Meruapakan suatu kemestian bagi kita untuk selalu berfikir dan terus berfikir dalam mencari kebenaran sebagai tanda syukur bahwa kita (manusia) diberi alat untuk lebih mengenal Tuhan ini baik dengan memperhatikan bahasa yang verbal atau pun bahasa non-verbal yang telah Tuhan limpahkan di alam ini. Dan dengan berfilsafatlah (berfikir) salah satu jalan yang dapat kita tempuh .

 

 

4. Masalah otoritas wahyu (agama) dan kemampuan rasio manusia (filsafat) merupakan masalah klasik dalam filsafat Islam. Jelaskan permasalahan tersebut  menurut Ibn Sina !

 

Pembagian filsafat menurut Ibn Sina pada pokonya tidak berbeda dengan pembagian yang dilakukan oleh para filosof sebelumnya, yaitu filsafat teori dan filsafat amalan. Akan tetapi beliau mengkoneksikan antar keduanya dengan agama (wahyu). Dasar-dasar yang filsafat itu ada dalam agama atau syari’at Tuhan, hanya penjelasannya didapat oleh kekuatan akal pikiran manusia. Pemikiran tentang rasio (filsafat)nya, beliau menganut faham panacaran. Adalah jiwa manusia ( lihat macam-macam jiwa yakni : jiwa tumbuh-tumbuhan, jiwa binatang, dan jiwa manusia), di jelaskan bahwa jiwa manusia itu terdiri dari dua daya :

a)            Praktis  (al-‘amilah/ practical) yang hubungannya dengan badan

b)           Teoritis (al-‘alimah / an-nadhriyyah / theoretical) yang hubungannya dengan hal-hal abstak .

       Daya ini memiliki tingkatan , yaitu ;

  i.                                          Akal materil ( al-‘aqlul hayulani/ meteril intellect) yang semata-mata memiliki potensi untuk berpikir dan belum dilatih walau sedikitpun.

ii.                                          Intellectus in habitu (al-‘aqlu bilmalakati ) yang mulai telah dilatih untuk berfikir hal-hal yang abstack

iii.                                          Akal aktuil (al-‘aql bil-fi’li ) yang telah dapat berfikir tentang hal-hal abstack

iv.                                          Akal Mustafad (al’aqlul Mustafad / acquired intellect ) yakni akal yang telah sanggup berpikir tentang hal-hal abstack dengan tanpa perlu daya upaya ; akal yang telah terlatih begitu rupa sehingga hal-hal abstack selamanya terdapt dalam dalam akal serupa ; akal semacam ini yang mampu menerima limpaham ilmu pengetahuan dari akal aktif (al-aqlul fa’al)

 

Dari penjelsan di atas saya mencoba menjelaskan terkait dengan hubungan wahyu akal. Ibn Sina menyatakan bahwa mansuai memilki potensi untuk berada pada level tertentu. Bila memang manusia memiliki jiwa kemanusiannya (a-nafs annatiqah / rational soul ) yang berpengaruh pada dirinya. Maka orang itu akan menyerupai mailakatdan dekat dengan kesempuranaan .

 

Dalam hal ini daya praktis (al-quwwatul amilah) mempunyai kedudukan penting, dengan daya ini manusia akan mengontrol bdannya, sehingga hawa nafsu yang terdapat dalam badan akan tidak menjadi halangan bagi daya teoritis (al-quwwatul nadhriyah) untuk membawa mansuia kepada pemahan wahyu.

 

Akal yang diklsisfikasikan menjadi  4 tingkatan, akal materil (al-aqlul hayulani) adakalanya Tuahn menganugrahkan kepada manusia akal ini yang besar dan kuat, yang oleh Ibn Sina diberi nama al-hadats (intuisi ). Daya yang ada dalam akal ini begitu besarnya, sehingga tanpa memalui latihan, dengan mudah dapat berhubungan dengan  akal aktif dan dengan mudah menerima cahaya atau wahyu dari Tuahn. Akal yang serupa ini memilki daya suci ( quwatul qudsiyah) inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia, dan hanya terdapatpada nabi dengan mendapat wahyu dari Tuhan.

 

Dari pendekatan diatas, Ibn Sina tidak menyangkal bahwa antara wahyu (agama ) dan akal saling terkait dalam menjelskan pelbagai masalah yang dipikirkan manusia dalam mencari kebenaran itu. Agama yang memiliki kedudukan tinggi (karena : adanya wahyu ; - Akal Mustafad).  Dengan demikian ia menjadi hal yang paling akurat untuk di jadikan pedoman. Namun tentunya apa yang terdapat dalam wahyu itu memerlukan penjelesan  yang jelas, maka diperlukan akal untuk menerangkannya . oleh karena wahyu meilki bahasa yang sangat tinggi, maka akan lebih disederhanakan pemahamannya kepada manusia secara keseluruhan (terutama kepada kaum awam ) dengan menggunakan metode yang logis (mudah diterima sesuia dengan tingkat akal mereka masing-masing).

 

Dari sini, Ibnu Sina berupaya untuk mengintegrasikan antara pemahaman bahasa yang ada dalam wahyu dengan bahasa yang lebih sederhana agar ajaran agama dapat dengan mudah dipahami.

Sebagaimana tokoh filsafat lainnya, Ibnu Sina menginterpretasikan bahwa manusia mendapat pengetahauan atau dapat ma’rifat dengan Tuhan dengan dua jalur yakni dengan memahami wahyu serta  dengan jalan berfilsafat (berfikir dengan melihat fenomena dan gejala yang da di alam).  Berkali-kali beliau menegaskan bahwa perhatian filsafat (akal ) ditujukan kepada pengenalan apa yang dibawa oleh syara’. Kalau maksud ini dapat dicapai, maka filsafat (akal) harus mengakui kelemahannya terhadap hal-hal yang dibawa syara’. Yang hanya diketahui melalui syara’ itu sendiri.

 

 

 

Bibliografy

Ø            Madjid, Nurcholish, Khazanah Intelektual Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1984

Ø            Nasution, Harun, Dr., Filsafat dan Mistisme Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1973

Ø            Poerwantara, Drs., A.Ahmadi dan Rosali, M.A, Seluk Beluk Filsafat Islam, Rosda Karya, Bandung, cet-III , 1997

Ø            Sidi, Gazaba, Ilmu, Filsafat dan Islam; Tentang Manusia dan Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1978

 

 

 

 

 

BACK  TO  MY  PERSONAL HOME-PAGE

Please click

 

 

 

Dikirim oleh : Fery Cahyadin

Email : ferysyifa@netscape.net,ferysyifa@usa.net,ferysyifa@music.com atau vey212@yahoo.com

URL : http://www.geocities.com/vey212/fery.html

http://ferysyifa.tripod.com/welcome.htm

 

copyrightã2001